Senin, 11 April 2016

KETIKA KAU MEMANDANGKU

Pagi ini akan menjadi pagi yang paling ku takuti, tapi mau bagaimanapun aku harus melakukannya karena aku seorang reporter, yang harus mengungkap kasus pembunuhan yang sering terjadi di salah satu tempat orang terkemuka di seoul, dan diperkirakan ia lah tersangkanya, tapi aku tak akan gentar, apalagi orang yang sering dibunuh itu adalah wanita, sama sepertiku. “Jung-ho!” Panggilku pada rekan baruku, ia bertugas sebagai kameramen, sebenarnya aku kasihan padanya, baru 3 hari ia masuk kerja dan harus mendapat kasus seperti ini. “Ye (iya)!” Jawabnya dengan terus mengemudikan mobil kantor menuju Tn. Choi, yang menjadi tersangka. “I jag-eob-eul suhaenghaneun geos-eul dulyeowohaji anh-eun geos-eun, maeu wiheomhada (apa kau tak takut melakukan tugas ini, ini sangat berbahaya).” ucapku memastikan, pasalnya ini bukan kasus yang mudah. “Ani (tidak), karena kebenaran harus segera terungkap!” “Geugeos-eun sasil-ibnida(benarkah?)” “Ye!” “Ya sudah kalau begitu!” — Banyak penjagaan di sini, dan pasti reporter dilarang masuk. “Jung-ho, bagaimana ini?” “Aku juga tidak tahu senior, tapi kita sudah terlanjur di sini, dan mereka juga pasti sudah melihat mobil kita senior!” Apa yang dikatakan Jung-ho benar, dan itu tidak mungkin bagi kami untuk memutar arah dan pergi, pasti mereka akan mengejar kami. Saat aku tengah berpikir tiba-tiba kaca mobil kami diketuk dengan keras oleh salah satu penjaga sewaan itu, mereka sering dikenal dengan nama “tiger” yang terkenal handal nomor 2 setelah orang misterius yang sekarang menjadi trending topik, karena semua orang tidak mengetahui namanya ia sering dipanggil “black” karena saat melakukan aksinya ia selalu berpakaian serba hitam dengan tudung kepala. Hanya orang tertentu yang bisa menyewanya, namun tetap saja identitasnya tidak diketahui. — “Hei keluar!” Teriak para tiger itu, membuat tubuh kecilku gemetar. “Senior mau ke mana, ku mohon jangan turun, kita pergi sekarang!” “Ani Jung-ho, kita harus turun!” Ucapku dengan membuka pintu yang disambut selidik oleh para tiger. “Siapa kau? ada penting apa ke mari?” “Senior!” Ucap Jung-ho dengan menggelengkan kepalanya. “Ani Jung-ho, aku adalah reporter dan aku ke mari ingin bertemu dengan tuan kalian, di mana dia?” “Berani sekali dia!” Ucapnya dengan sedikit menarik bajuku, membuatku semakin gemetar. “Lepaskan dia, berani sekali kau menyentuhnya?” Bela Jung-ho. “Jung-ho, apa yang kau lakukan?” “Senior tidak apa apa?” “Gwaenchanha (tidak apa apa’).” “Siapa kau, tunggu! sepertinya aku mengenalmu, tapi siapa kau?” ucap ketua tiger itu dengan mengelilingi Jung-ho, membuatku khawatir. “Black! ye kau black kan?” “Kenapa dia bisa mengenaliku, jangan sampai semuanya terbongkar!” Ucap batin Jung-ho yang tak bisa ku dengar. “Siapa black? aku tak mengenalinya, aku Jung-ho!” “Ye, dia Jung-ho,” imbuhku. “Coba kita lihat!” Ketua itu menyeret Jung-ho dari sisiku, dan ia terus memukulinya hingga Jung-ho berdarah. “Hentikan, ku mohon hentikan!” Rintihku dengan menahan sakit pada dadaku tiap kali melihat kekerasan, karena masa kecilku dulu. “Aku tidak bisa melawan sekarang!” Gumam Jung-ho pelan. Dadaku semakin sakit, napasku sudah mulai tak teratur, bagaimana ini? “Hentikan aku mohon! Jung-ho kau baik-baik saja?” “Ye!” “Cepat kau lari, biar aku yang hadapi mereka?” “Ani senior!” “Turuti saja aku,cepatt!” “Ye!” “Mau ke mana dia, cepat kejar!” Perintah ketua itu. “Dia tidak ada hubungan apa pun dengan ini semua, justru aku yang mengajaknya ke mari, ku mohon jangan sakiti dia!” Rintihku dengan menahan sakit, mereka terus kasar kepadaku, membuatku terduduk tanpa daya, saat aku mulai pasrah, tiba-tiba ada seseorang yang menghajar semua tiger itu, aku sempat melihatnya. Namun dengan melihat itu semua justru membuatku semakin sakit. “Tutup matamu, dan atur napasmu, semua akan baik-baik saja!” Ucapnya dengan menutup tubuhku menggunakan jaketnya, aku mengenali jaket ini, ini seperti milik… “Black!” — Perkelahian terus terjadi. “Black, akhirnya kau muncul setelah lama bersembunyi, kenapa? Kau takut ha?” “Aku tak pernah takut pada siapa pun!” BUK..BAK… Perkelahian itu sangat mengerikan hinggaku menutup telingaku. “Kau lihat saja nanti, urusan kita belum selesai!” Ucap tiger itu dan mulai melarikan diri. “Kau baik-baik saja?” Ucap orang yang disebut black itu kepadaku. “Gwaenchanha!” “Di mana obatmu?” “Di tas!” “Berapa pilnya?” “2!” “Ambil ini!” Ucapnya dengan menyodorkan pil itu kepadaku, ku sandarkan kepalaku dalam pelukannya tanpa ku sadari sebelumnya, “gumawo!” “Ye!” Ucapnya dengan pergi meninggalkanku sendiri. “Di mana orang itu?” “Black, gumawo, siapa pun kau aku ingin sekali bertemu, aku ingin melihatmu, aku mencintaimu!” Gumamku pelan. Ternyata black atau Jung-ho mendengar gumamku tadi, ia belum pergi, dan sebenarnya ia sangatlah dekat. Untuk sementara waktu penyelidikan tentang kasus itu aku hentikan setelah kejadian kemarin, namun aku tetap berusaha untuk mengulik kebenaran. “Bagaimana keadaan Jung-ho sekarang? apa dia baik-baik saja? atau sebaliknya!” Aku terus khawatir dengannya, entah kenapa. “Aku telepon saja dia!” Aku mulai memencet nomor Jung-ho di ponselku. “Saranghae naneun neo hanappunya. Nomalgon uredo eopjanha.. Daheul so eupsodo aneul di eupsodo!” Begitulah nada dering ponsel Jung-ho yang ku dengar. “Dia suka juga dengan lagu ini?” Gumamku pelan. “Annyeonghaseyo (halo).” “Jung-ho ya! kenapa kau lama sekali mengangkat telepon seniormu ini ha?!” “Mianhae (maaf) senior!” “Gwaenchanha (tidak apa-apa), bagaimana keadaanmu, baik-baik saja kan?” “Ye!” “Aku khawatir dengan keadaanmu, kau beneran baik-baik saja?” “Ye senior, apa aku tidak salah dengar, senior khawatir denganku?” “Emm, ye, karena kau kan kameramenku, sebatas itu saja!” Aku terus mengobrol dengan Jung-ho seraya berjalan ke luar rumah, mencari angin malam yang menyambutku dengan dingin. “Senior, annyeong, senior?” “Ehh, iya?” “Senior kenapa, ada masalah?” “Ani (tidak), aku hanya kepikiran dengan seseorang saja!” “Denganku, haha?” Ucap Jung-ho yang tanpa ku sadari dia ada di dekatku, sangat dekat malah. “Ani ngapain aku memikirkanmu, kamu tahu black kan?” “Em ye,” “Bagaimana aku tidak tahu, karena sebenarnya akulah black itu, tapi kamu belum saatnya tahu senior, ah maksudku inha, dan aku sebenarnya juga jongsuk, yang saat kecil kita selalu bersama!” Ucap batin Jung-ho. “Kemarin dia yang sudah menolongku, aku ingin bertemu dengannya, aku ingin mengucapkan sesuatu kepadanya!” “Ya aku sudah tahu!” Ucap Jung-ho kelepasan. “Maksudmu?” “Ani, emang senior mau mengucapkan apa?” “Entah kenapa aku jadi menyukainya, ini aneh kan? padahal baru pertama kali kemarin aku bertemu dengannya, tapi itulah yang ku rasakan, aku sudah tahu lama tentangnya namun baru kali ini aku bertemu dengannya!” Jung-ho tidak meresponku, ia diam bagai seribu kata, “Ah ngomong apa aku barusan, kenapa aku begitu terbuka padamu, sudah dulu ya!” Ucapku dengan menutup telepon. “Aku juga menyukaimu inha!” Ucap Jung-ho yang sebenarnya black dan black itu sebenarnya jong suk teman kecilku. — “Heh, kenapa kau menatapku begitu? tak sopan bersikap seperti itu pada seniormu!” “Eh mianhae senior!” “Ye, tunggu aku seperti mengenal matamu!” “Mataku?” Ucap Jung-ho menghentikan aktivitasnya meminum kopi di salah satu cafe dekat kantor, kami libur hari ini jadi cukup bersantai saja. “Tatapanmu, dan matamu sama seperti black, aku sangat mengenalinya, apa kau?” “Ah itu tak mungkin kaan, tak mungkin kau black, iya kan?” “Ye!” Jawab Jung-ho dengan gagap, tapi aku sungguh mengenali mata itu. — Hari telah berganti, dan malam menyapaku kembali setelah seharian bersama Jung-ho. “Aku akan membantumu inha, aku akan mencari bukti tentang kasus itu, bersabarlah!” ucap Jung-ho, seraya menghubungi Ahjumma, seseorang yang selalu membuatkan strategi untuknya. “Heh Ahjumma! cari tahu tentang Tn. Choi sekarang, aku ingin menemukan bukti bahwa ia bersalah!” “Araso!” Ucapnya, mereka tak menggunakan telepon untuk komunikasi tapi menggunakan elektronik yang canggih jadi apa pun bisa mereka lakukan. “Kamu harus melakukan penyadapan suara Jongsuk, alatnya sudah ada di mejamu!” “Emm araso, di mana aku harus memasangnya?” “Di ruang rahasianya, ruang kerjanya!” “Oke, akan ku lakukan, tapi di sana pasti ada sisi tv kan?” “Tenang saja, akan ku matikan sisi tv itu, itu mudah bagiku!” — Jung-ho mulai bersiap, ini tidaklah sulit baginya karena ini adalah hidupnya. Pelan tapi pasti ia mulai masuk dalam rumah mewah itu, sepi gelap, ini kondisi yang bagus untuknya, ia pun mulai memasang alat penyadap di bawah meja agar tak ketahuan. “Bersabarlah inha, sebentar lagi kamu akan menemukan bukti!” Ucap Jung-ho lalu pergi. — Benar saja, pagi pagi sekali ahjumma menghubungi Jung-ho. “Kenapa?” “Penyadap suara itu berhasil menemukan bukti besar Jongsuk, apa kau mau mendengarnya?” “Ye, cepat kirimkan padaku, oh iya satu lagi jangan panggil aku dengan nama asliku aku tak mau ia terkotori dengan tingkahku, panggil aku black saja, seperti kebanyakan orang memanggilku!” “Hem.. araso!” Bukti itu sudah ada di tanganku, “Jangan sampai ada yang tahu tentang kalau aku sudah melakukan perbuatan keji itu, jika ada yang bisa hancur namaku, apalagi dua reporter sialan itu!” Begitulah suara Tn. Choi yang ku dapat dari penyadap itu, Jung-ho segera bersiap untuk menyerahkan bukti itu padaku, ia mengendap-ngendap masuk dalam kamarku dan menaruh bukti itu dengan selembar kertas. “Na na!” Aku memasuki kamarku dengan bersenandung, “Apa itu?” Aku mulai mendekati plesdis yang diberikan Jung-ho, lebih tepatnya sih black. Aku mulai membaca surat yang ditinggalkaan black untukku. “Di dalam ini ada sesuatu yang kamu cari, kamu sedang mencari bukti tentang Tn. Choi kan? Semua ada di sini, black!” Begitulah surat itu, “Ya Tuhan black tadi masuk ke kamarku, yang benar saja? dan ia memberikan bukti ini padaku!” Aku segera menghubungi Jung-ho, bukti ini harus segera ku serahkan pada atasanku. “Jung-ho, aku sudah mendapatkan bukti, kau bisa menemuiku di cafe kemarin tidak?” Tulisku dalam pesan sms. “Terima kasih black!” Aku memeluk erat foto black meski wajahnya tertutup, lagi-lagi black belum pergi ia memandang bahagia ke arahku tanpa ku sadari, “Oke nanti aku akan kesana!” Balas Jung-ho atau black kepadaku dengan tersenyum. — Tapi ternyata penyadap itu telah diketahui oleh Tn. Choi